Wednesday, November 16, 2016

SANG LEGENDA GUDEG JOGJA

  1 comment

Logo Gudeg Yu Djum

Gudeg merupakan panganan khas Jogja, dan bagi orang yang sudah pernah berkunjung ke Jogja pasti tidak asing dengan GUDEG YU DJUM. Pemilik gudeg legendaris tersebut adalah Djuwariyah Darmosumarno atau biasa dipanggil Yu Djum. Pemberian nama Yu Djum barasal dari para pelanggan yang sering memanggil dengn sebutan “Yu” yang dalam bahasa jawa merupakan singkatan dari “mbakyu”  yang ditujukan untuk orang yang lebih tua khususnya wanita dan “Djum” yang merupakan nama pendek dari ibu Djuwariyah Darmosumarno.

Yu Djum lahir pada tahun 1931, ia dilahirkan dari keluarga sederhana yang menggeluti usaha gudeg. Karena itulah ia bekerja keras untuk bisa menjualkan gudegnya. Pada umur 17 tahun Yu Djum sudah mulai menjual gudeg dengan modal racikan bumbu warisan ibunya. Sang suami Suwandi Dharmosuwarso lah yang setiap hari memasak gudeg yang akan dibawa berkeliling oleh Yu Djum. Suaminya merupakan anggota TNI yang pandai memasak.

Yu Djum mulai merintis usaha gudegnya sejak tahun 1950, untuk mendapatkan modal awal beliau harus berjualan rumput dan kayu kepada para tetangganya, uang yang didapatkan kemudian ditabung dan digunakan untuk membeli peralatan untuk memasak gudeg. Sebelum menjual gudegnya dirumah, ia berkeliling menjajakan gudeg buatannya, karena pada saat itu belum ada kendaraan, maka ia harus berjalan kaki mulai dari daerah Bulaksumur UGM sampai daerah  selatan Plengkung Wilijan, kalau dagangannya tidak habis maka dibungkusi dan dititipkan di warung-warung pasar Gede. Kemudian pada tahun 1985, Yu Djum membuka warung di daerah Wilijan dengan kursi dan meja yang sederhana, namun dapur tempat memasak gudegnya tetap berada di rumahnya di daerah Karangasem, Mbarek. Pada tahun 1993, rumahnya yang terletak di Karangasem yang awalnya hanya sebagai dapur diubah menjadi warung. Karena permintaan pelanggan yang semakin banyak akhirnya menyewa kios dan mematenkan tren gudeg kering.

  Yu Djum saat umur ±50 tahun     

                                              Yu Djum saat umur ±80 tahun

Dengan sikap tegas, keras, galak dan pantang menyerah yang dimilikinya Gudeg Yu Djum pun semakin dikenal masyarakat. Kini Gudeg Yu Djum mempunyai 12 cabang di Solo dan Jogja. Rahasianya yaitu Ia selalu menjaga kualitas dan kebersihan warungnya agar pelanggan nyaman dan cita rasanya tidak berubah, jika ada yang kotor ia akan langsung menegur. Ia juga selalu mengajarkan hidup mandiri kepada anak cucunya.

"Nyambut gawe gak usah muluk-muluk, yang penting kerja untuk menghasilkan jangan jadi orang pemalas (mencari kerja tidak usah muluk-muluk, yang penting kerja dan menghasilkan dan jangan jadi pemalas)"-Yu Djum
             Namun sayang pada tanggal 14 November 2016 pukul 18.30, Yu Djum menutup usia dikarenakan penyakit sepuh.  Ia meninggal dunia pada umur 85 tahun setelah dirawat selama 3 hari di RS Bethesda Jogja. Yu Djum meninggalkan 4 orang anak, 13 cucu,  dan 8 buyut, dan semuanya bisa memasak gudeg, ia dimakamkan di TPU Karangmalam disamping makam ayahnya.

               Baca kisah menarik lainnya disini.

1 comment :

  1. Terima kasih untuk artikel yang menarik terkait legenda gudeg Jogja yang sangat menambah informasi. Terkait bahasan yang sama berikut saya lampirkan link yang dapat menambah informasi terkait makanan tradisional dalam makna sosial budaya serta upaya pelestariannya supaya kita dapat mengetahui makanan tradisional lainnya selain gudeg. Anda dapat langsung membacanya pada link berikut: https://repository.unair.ac.id/72117/1/PG.-242-10-Arb-m.pdf

    ReplyDelete